Bernilai Nilai Jual Tinggi, Profesor Riset LIPI Minta Prioritaskan Konservasi Hoya Nasional

0 13
Bernilai Jual Tinggi, Profesor Riset LIPI Minta Prioritaskan Konservasi Hoya Nasional
Tanaman hias Hoya jenis lanceolata ssp. bella..25 persen populasi hoya dunia ada di Indonesia.

Jakarta, Lensanews.co –  Ada banyak macam ragam hayati di tanah air yang bernilai ekonomi tinggi. Salah satunya adalah tanaman hias Hoya. Menurut Profesor riset LIPI, Sri Rahayu, Hoya memiliki nilai jual tinggi, karena itu harus menjadi prioritas konservasi nasional. Hal ini diungkapkan Sri Rahayu saat pengukuhan dirinya sebagai professor riset LIPI.

Dalam orasinya yang berjudul “Konservasi Biodiversitas dan Pemanfaatan berkelanjutan Hoya di Indonesia” Rahayu menyebutkan bahwa Indonesia merupakan pusat keanekaragaman tanaman hias Hoya di dunia dengan lebih dari 25% populasi di dunia. Keunggulan Hoya, yaitu berkemampuan tinggi dalam menyerap polutan pada suatu ruangan.

Rahayu menyampaikan Hoya memiliki nilai penting dalam keanekaragaman hayati di Indonesia meliputi nilai ilmiah, ekologis, ekonomis, dan budaya. Hoya sudah sejak lama telah dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional. Selain itu, Hoya memiliki popularitas sebagai tanaman hias dengan nilai jual yang tinggi.

Berdasarkan survei terhadap kelompok pedagang Hoya, harga bibit berkisar dari Rp25.000–Rp500.000/setek, dan dari Rp500.000–Rp3.000.000/pot untuk tanaman dewasa. Harga untuk pasar internasional berkisar $10–100/setek.

Namun, pemanfaatan ekonomi Hoya di Indonesia masih terbatas dan belum menjadi prioritas konservasi nasional. Ketidaktahuan masyarakat terhadap aturan dan mekanisme serta prinsip konservasi dan pemanfaatan sumber daya alam hayati berkelanjutan menjadi masalah utama. Terlebih lagi, Hoya merupakan tanaman yang sangat bergantung pada keberadaan pohon yang ditumpangi, sehingga keberadaan populasi di alam semakin terancam dengan semakin berkurangnya habitat.

”Pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai aturan perdagangan tumbuhan hidup, baik untuk pasar di dalam maupun di luar negeri juga sangat minim sehingga terjadi penjualan yang tidak sesuai dengan aturan dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Hal ini dapat menyebabkan keuntungan ekonomi tertinggi diperoleh pihak luar negeri yang melakukan sistem budidaya dan inovasi produk yang lebih baik,” jelas Rahayu dalam orasinya.

Menurutnya, pembiakan Hoya yang berkelanjutan dapat menjadi prioritas awal. Oleh karena itu, perlu upaya konservasi dan pemanfaatan Hoya dengan konsep “save, study, use” yang meliputi penyelamatan, penelitian, dan pemanfaatan berkelanjutan.

Konsep ini cocok diterapkan pada kebun raya di Indonesia yang memiliki lima fungsi melekat, yakni konservasi ex situ, penelitian, pendidikan lingkungan, ekosiwata, serta layanan eksosistem.

“Dibutuhkan kearifan lokal yang dipadukan dengan kemajuan teknologi informasi, serta kecerdasan buatan untuk membantu kepentingan konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan hoya di Tanah Air,” sebut Rahayu.

Penulis : FX Elvis Hancu

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.