In Memoriam Kakaku Dr. Daniel “Residen Maier” Dhakidae

Oleh: Max BiaeDae

0 67
In Memoriam Dr. Daniel Dhakidae
Penulis | foto istimewa

Setelah Kota Kupang diterjang badai “Seroja” dua hari dua malam, saya kira setelah itu, bisa langsung mengangkat kepala dan tertawa senang. Ternyata tidak. Saya belum bisa mengangkat kepala lebih kuat dan tertawa lebih besar. Kabar sedih menimpa kami sekeluarga secara lebih mendalam lagi. Kami diberitahu bahwa orang yang paling disayangi, kakak Daniel Dhakidae, pergi untuk selamanya. Ini kehilangan besar buat kami sekeluarga. Bahwa beliau menjadi tokoh cendikiawan nasional pasti banyak yang sudah membaca di pelbagai tulisannya. Tetapi kehangatan sebagai saudara dan kakak di dalam keluarga juga menjadi bagian yang pasti sangat kami butuhkan.

Memang kesehatannya sudah mulai menurun semenjak kepergian istrinya, Lily pada 2019 yang lalu. Kira-kira Oktober 2020, beliau sakit agak serius tapi kemudian baik kembali. Sejak itu, saya agak rutin menanyakan keadaan kesehatanya. Bilangnya kesehatanya sudah lebih baik, dan sedang dalam proses recovery. Kemudian mendapat serangan lagi yang terakhir, sampai dengan ajal menjemputnya kemarin.

Saya memanggilnya kakak. Tetapi usianya sebaya dengan ayah saya. Hanya status di rumah menempatkan kami sebagai kakak beradik. Kami berasal dari satu rumah dalam pengertian sebagai extended family. Kami keluar dari kakek yang sama: “Yohanes Karolus Biae Dae.” Dari rumah yang dimaksudkan, kami membangun kebersamaan sebagai kakak beradik. Sebab itu, semua rencana dan keputusan penting berkaitan dengan kebersamaan di rumah akan dirundingkan secara kakak beradik pula. Untuk itulah walaupun jauh, beliau salalu dikonfirmasi meski via telpon atau pesan singkat, misalnya. Rumah yang lasim disebut untuk kami adalah Sao [Y]Ende karena, dari Daniel juga saya tahu, bahan-bahan rumah itu semuanya dibeli dan diambil dari Ende. Rumah menjadi penting menurutnya.  “Kita harus membangun Indonesia dari Wekaseko.” Demikian selalu dikatakannya dalam setiap kesempatan kalau ada di rumah di kampong, Wekaseko.

Dari rumah juga nama seseorang biasanya diberikan. Sebagaimana kebiasaan umumnya, kami orang Wekaseko di Toto-Nagekeo juga mempunyai kebiasaan memberi nama yang diambil dari kakek atau nenek setelah nama santo atau santa. Sebab itu, nama belakangnya “Dhakidae”, nama yang membawa dua klan sekaligus. “Dhaki” mewakili kekek dari garis keturunan ibu dari klan Gani Nuwa. Sedangkan “Dae”adalah nama kakeknya dari klan ayahnya.  Maksudnya agar semangat hidup dari kakek atau nenek tetap dipertahankan dan pribadi mereka tetap dikenang juga.

Sedangkan “Residen Maier” adalah nama yang dibaptis baru oleh kami berdua sendiri karena pengalaman unik tahun 2006. Beliau dibaptis dengan “Residen Maier van Koepang” sendangkan saya dibaptis dengan nama baru: “Letnan De Vries.” Nama ini lebih merupakan nama untuk merayakan data, demikian kalau Filsuf Paul Ricouer bisa saya pinjam.

Ceritanya panjang, tetapi bisa disingkat begini. Waktu itu kami mengoreksi kekeliruan historis tentang Perang Watu Api yang diteliti oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, PPO Provinsi NTT. Setelah mendapatkan sumber-sumber dari arsip kerajaan Belanda di Denhaag baru terbuka informasi tentang sebab kematian Nipado pada tahun 1916 karena ditembak oleh pasukan militer di bawah komando Letnan De Vries. Peristiwa ini dilaporkan Letnan De Vries ke Koepang kepada Residen yang bernama Residen Maier. Kami senang sekali dengan temuan ini sehingga dia bilang Maxi jadi Max Letnan De Vries BiaeDae dan dirinya, Daniel Residen Maier Dhakidae. Sampai akhir hayatnya sapaan ini tetap kami pakai dalam pertemuan pribadi, telpon maupun sapaan via Whatsapp.

Memang waktu kecil saya sering mendengar cerita tentangnya dari rumah juga.  Tetapi waktu pikiran saya beranjak menjadi lebih sedikit konseptual, saya mulai mengenalnya lagi melalui tulisan-tulisannya, terutama ketika di Seminari Hokeng.

Saya senang sekali membaca tulisannya di rubrik “Topik Kita” di majalah “Prisma” yang dipajang di taman baca Seminari. Kami biasa berkunjung taman bacaan, kalau sempat di sore hari dan pada rekreasi malam.

Minat belajar dari tulisannya menjadi lebih kuat lagi, ketika saya belajar Filsafat di Ledalero karena sangat mendidik dalam arti the cultivation of the intellect. Apalagi ketika di sana saya juga suka dengan pemikiran Marxis.

Namun, kalau bertemu kami juga lebih suka dongeng daripada berbicara yang serius. Suka dongeng tentang kampung, tentang kelakuan orang tua kami tempoe doeloe.

Tetapi kadang-kadang kami umpan Daniel agar bercerita tentang ketika masih mahasiswa dan kemudian di Prisma dan LP3S, Cornel  University dan kemudian di Litbang Kompas.

Dari semua kisah, salah satu kisah yang saya senang adalah kisah ini. Yakni, pengalamannya dalam peristiwa Malari. Pengalaman ini juga secara tertulis dikisahkannya di dalam “The Confesioness: A Preface to the Dissertation” hal.xix-xxx).

Gara-gara Malari ini Daniel dan salah satu sahabatnya dari LP3ES dicekal untuk bepergian ke Jerman. Beliau pernah dicekal di Halim. Waktu itu, mau ke Jerman diundang oleh salah satu Yayasan  di sana untuk berbicara tentang kemiskinan. Beliau diminta untuk berbicara tentang Kemiskinan Struktural di Indonesia. Sampai di Bandara Halim mereka dicekal oleh Tentara dan tidak boleh berangkat ke Jerman.

Pengalaman ini benar-benar traumatik baginya. Ketika akan berangkat ke Cornel University namanya tiba-tiba dicalling dari ruang informasi Bandara. Waktu itu, Daniel sudah di ruang tunggu. Beliau dipanggil keluar dari ruang tunggu secepatnya. Katanya, beliau harus menyelesaikan urusan yang sangat penting pada saat itu juga. Di dalam hatinya dia bilang, “sekarang pasti batal lagi ke Amerika.”

Dari jauh dilihatnya sahabat dekatnya,  Dr. Sjahrir di dalam ruang informasi Bandara Halim. Semakin yakin di hatinya bahwa benar-benar batal ke Amerika. Sialan!, tahu-tahunya, Sjahrir hanya mau menyampaikan kepada beliau bahwa ibu Sjahrir sudah tidak punya harapan hidup dan mungkin putus napas ketika Daniel sedang dalam penerbangan ke Amerika. Mohon doanya. Sebab itu, setiap kali landing di Halim saya selalu ingat cerita Daniel ini.

Selain itu, pengalaman bersama Daniel menyejukkan. Daniel tidak pernah menggurui. “Harus begini atau begitu.” Motivasi kepada orang tidak didorong lewat kata-kata. Beliau memberi motivasi kepada orang dengan cara yang sangat unik. Satu dua pengalaman bersama beliau, menurut saya, sangat mendidik.

Saya ingat tahun 2003 ketika di rumah “Sao [Y] Ende” di Wekaskeo, saya berbaring di Sofa. Lantas saya kaget karena beliau meletakkan majalah der Spiegel (majalah berbahasa Jerman) di kepala saya. Memang bahasa Jerman kami belajar di Hokeng tetapi setelah itu putus dan tidak lanjut lagi. Namun, tindakan beliau itu sarat pesan. Itulah yang membuat saya termotivasi untuk harus belajar lagi bahasa Jerman, walaupun hanya untuk membaca buku atau literartur berbahasa Jerman, seperti mengakses der Spiegel versi online.

Waktu lain tahun 2006 ketika sedang dalam traveling, di Hotel mentari Ende, dibukanya The New York Time di Hand Phone Nokia E9, waktu itu hanya nokia jenis ini yang bisa mengakses internet dengan cepat. Saya disuruh membaca The New York Time dari Hand Phonenya itu. Dari situ saya belajar untuk terus membaca buku-buku bahasa Inggris. Sekarang apalagi. Lebih mudah untuk mengakses e-book.

Yang satu ini mungkin bagus untuk yang pernah di Seminari. Dia bilang kepada saya kalau setiap hari beliau membaca Kitab Suci berbahasa Latin. Dari situ saya juga coba-coba cari. Waktu saya mau meninggalkan Ledalero tahun 2005 saya naik perpustakaan Ledalero Lantai II. Ada beberapa buku Latin di situ tetapi karena alasan hurufnya susah dibaca maka saya ambil buku “Biblia Sacra Vulagatae Editionis.” Saya foto kopi dan jilid buku itu. Setelah dari Ledalero saya tetap berusaha agar setiap hari bisa membaca “Biblia Sacra” ini. Buku ini masih ada di rak buku pribadi saya.

Selain itu, Daniel mengajarkan kemandirian intelektual dan semangat mencari. Satu kali mengunjungi beliau di Prisma, saya mengganggunya tentang metodologi penelitian. Saya bilang kalau ada ahli yang membimbing kami secara spesifik tentang metodologi penelitian mungkin bagus. Tetapi beliau menimpali saya bahwa selain mendengar yang diajarkan, cari sendiri dengan membaca sumber bacaan yang bisa diakses, tidak kalah bagusnya.

Juga masih dalam hubungan dengan menulis, pernah disinggungnya agar menulis seperti membangun rumah: Letakkan fondasinya dan rangka-rangkanya, tembok, kuda-kuda dan atapnya. Selain itu, harus mampu mengejar sumber dan kalau bisa sampai pada sumber pertama.  Selain itu, sumber-sumber itu juga harus bisa diterjemahkan sendiri. Sebab itu, menguasai bahasa asing (Inggris, Latin dan Jerman) menjadi penting, menurutnya. Sebab kalau tidak kita hanya berharap pada sense terjemahan orang lain. Baginya, sumber Latin adalah puncak pencarian tertinggi.

*

Satu-satu mereka beranjak dari rumah kami, baik yang berstatus ayah maupun anak dan saudara. Sama seperti mereka demikian juga dengan Daniel, kontak dan hubungan sebagai kakak beradik tidak seperti biasanya. Tetapi, saya masih percaya kalau kepergian mereka akan memberikan yang  berenergi dengan caranya dari dunia seberang sana. Seperti yang pernah dibilangnya juga bahwa beriman kepada Yesus adalah beriman kepada kebangkitan. Orang lain mungkin hanya berbicara tentang kebangkitan Yesus melalui wacana-wacana mereka. Akan tetapi mereka tidak mengimani Yesus. Yang lebih pada kita adalah kita mengimani Yesus dari totalitas diri kita, kaki sampai kepala. Kalau sekarang kamu masih dalam taraf berjuang, maknai saja perjuangan itu sebagai keadaan sedang di dalam kuburan bersama Yesus. Percaya, nanti akan menikmati kebangkitan bersama-Nya. Eh, indah nian Residen Maier! Doakan Letna De Vries yang sedang berjuang. Requiecat in sempiterna pace carissima mea.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.