Kepergian Daniel Dhakidae, Kehilangan Besar untuk Gerakan Demokrasi Indonesia

0 47
Perginya Daniel Dhakidae, Kehilangan Besar untuk Gerakan Demokrasi Indonesia
Daniel Dhakidae | foto diambil dari https://publicvirtue.id/

Jakarta, Lensanews.co – Berbagai kalangan menyampaikan ungkapan duka yang mendalam atas meninggalnya Dr. Daniel Dhakidae. Ungkapan itu berasal dari pemerintah, para aktivis, partai politik, dan bahkan masyarakat biasa. Ungkapan-ungkapan duka yang luas itu menunjukkan kapasitas intelektual Dr. Daniel yang disegani dan diterima luas oleh berbagai kalangan.

Ungkan duka yang sama disampaikan oleh Public Virtue Research Institute (PVRI). Dalam siaran persnya yang dikutip lensanews.co di Jakarta (7/4), PVRI mengungkapkan bahwa  perginya Daniel Dhakidae adalah kehilangan besar bagi gerakan prodemokrasi maupun masyarakat sipil yang memperjuangkan cita-cita Reformasi 1998 di Indonesia.

Dalam keterangan persnya itu, PVRI menggambarkan Dr. Daniel yang dikenal luas, tidak hanya oleh media dan peneliti. Ia juga dikenal akrab dengan para aktivis pro demokrasi.

Ketua Dewan Pengurus Public Virtue Research Institute (PVRI) Usman Hamid mengatakan, “Almarhum bukan hanya dikenal di kalangan media dan peneliti, tetapi juga dikenal akrab dengan para aktivis pro demokrasi, sejak era pemerintahan Suharto hingga era Reformasi. Karena itu kepergiannya adalah kehilangan besar bagi kaum prodemokrasi di Indonesia,” terangnya.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia itu menambahkan,  “Daniel kerap resah dengan situasi politik yang menampilkan sekadar pentasan, apalagi sekedar main-main atau political gimmics. Almarhum menginginkan supaya percik-percik demokrasi yang berjalan tidak dibiarkan membuat rakyat menderita. Demokrasi tidak boleh mempersulit hidup, melipat-gandakan korupsi, atau memperlebar jurang antara yang miskin dan kaya”.

Di dalam kesempatan yang sama, salah satu aktivis muda yang juga merupakan peneliti PVRI Raafi Ardikoesoema menambahkan, “Dan karena itu, bagi almarhum, aktivis tidak cukup hanya advokasi. Akademisi tidak cukup hanya di kampus. Melalui Jurnal Prisma dan berbagai forum diskursif, almarhum mengajak para aktivis, jurnalis dan akademisi untuk berpikir kritis dan berani menjadi intelektual publik,” tambahnya.

Dalam catatan Public Virtue Research Institute, pemikiran almarhum tentang demokrasi di Indonesia telah menyumbang pembangunan gerakan sosial di tingkat akar rumput. Tidak  banyak intelektual publik yang mau turun dari menara gadingnya. Daniel adalah satu di antara sedikit intelektual publik yang secara sukarela ikut berpeluh dan berkeringat demi memperjuangkan demokrasi.

“Daniel kerap berpesan bahwa demokratisasi yang berjalan selama satu atau dua dasawarsa adalah waktu yang lama jika persoalan terus menerus mendera, dan setiap upaya seperti menabrak dinding. Masa itu jangan hanya dijadikan rentangan sang waktu—susul-menyusul antara jam-hari-minggu bulan, dan tahun. Tapi harus menjadi tonggak, apalagi ketika demokrasi sedang mengalami regresi. Itulah salah satu pesan almarhum yang akan kami selalu ingat” tutup Raafi.

Latar Belakang

Daniel Dhakidae meraih gelar PhD (1991) di bidang pemerintahan dari Department of Government, Cornell University, Ithaca, New York, Amerika Serikat, dengan disertasi bertajuk “The State, the Rise of Capital, and the Fall of Political Journalism, Political Economy of Indonesian News Industry.” Disertasi tersebut mendapat penghargaan the Lauriston Sharp Prize dari Southeast Asian Program Cornell University, karena telah “memberikan sumbangan luar biasa bagi perkembangan ilmu.”

Meraih gelar Sarjana Ilmu Administrasi Negara dari Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (1975) dan Master of Arts bidang Ilmu Politik dari Cornell University (1987). Selain menjadi Kepala Penelitian Pengembangan (Litbang) Kompas sejak 1994 sampai 2006, juga berkiprah sebagai redaktur majalah Prisma (1976); Ketua Dewan Redaksi Prisma (1979-1984); dan Wakil Direktur Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan, Ekonomi dan Sosial (LP3ES, 1982-1984).

Pria kelahiran Toto-Wolowae, Ngada, Flores, 22 Agustus 1945, yang tercatat sebagai salah seorang pendiri Yayasan Tifa dan pernah duduk di Dewan Pengarah yayasan ini kemudian “menghidupkan” kembali jurnal pemikiran sosial ekonomi Prisma dan duduk sebagai Pemimpin Redaksi (sejak 2009) merangkap Pemimpin Umum (sejak 2011).

Banyak buku pernah ditulisnya antara lain Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru (2003) dan bersama Vedi Renandi Hadiz menyunting buku bertajuk Social Science and Power in Indonesia (2005).*

Penulis: Ardi

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.