Lingkungan Belajar Dan Karakter Guru

Oleh: Fransiskus Ndejeng dan Maria Magdalena A. Jelu*

0 45
Pandemi dan kesehatan mental
Fransiskus Ndejeng | foto istimewa

Ruang lingkup garapan penulis dalam uraian tulisan ini adalah berkaitan dengan dua aspek yaitu Survey lingkungan belajar dan Karakter Guru. Untuk itu,  penulis menyuguhkan tulisan sebagai berikut, barang kali ada manfaatnya bagi sidang pembaca.

Survey Lingkungan Belajar

Terhitung mulai 4-5 Oktober 2021, siswa dan guru diantero negeri ini sibuk untuk mengerjakan soal Asesmen Nasional Berbasis Komputer(ANBK) secara online. Sementara itu, siswa siswi mengerjakan asesmen kompetensi minimal( AKM) berbasis Nasional secara serempak pula; yang meliputi asesmen literasi dan numerasi dan karakter siswa. Siswa siswi yang terpilih secara nasional dilakukan secara acak melalui media dapodik( data pokok pendidikan) yang terjaring setiap sekolah.

Sedangkan para guru mengerjakan soal Asesmen berbasis komputer secara online dengan materi garapan adalah berupa survey lingkungan belajar dan pembinaan karakter siswa dan guru di sekolah. Penekanan survey lingkungan belajar berfokus pada masalah pembelajaran guru di kelas, kerjasama antara orangtua dan atau komite sekolah dan unsur terkait lainnya dengan sekolah.

Bagaimana cara guru mengelola sistem kurikulum sekolah yang berlaku di seluruh negeri ini? Sejalan dengan pedoman sistem pembelajaran yang telah termuat dan tersirat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru setiap kali mengajar di kelas, sebagai kerangka acuan atau pedoman untuk mengelola kelas secara sistematis dan terencana sesuai tujuan yang akan dicapai pada saat pembelajaran berlangsung di kelas.

Bagaimana cara guru mengelola sistem kurikulum pembelajaran di sekolah? Sejalan dengan pedoman sistem pembelajaran yang telah termuat dan tersirat dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP) guru setiap kali mengajar di kelas secara sistematis dan terencana sesuai tujuan yang akan dicapai pada saat pembelajaran berlangsung di kelas.  Di samping itu, guru diharapkan pandai dan piawai untuk membangun motivasi dan pengembangan karakter siswa, berjuang sesuai dengan karakter siswa pancasilais sejati, agar tercapai masa depan sejalan dengan kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap, dan karakter yang baik.

RPP sebagai perangkat pembelajaran guru di kelas ibarat seorang petani membawa parang, pacul, sabit ke kebun untuk bekerja. Penjabaran kurikulum dalam RPP yang berorentasi mutu pembelajaran yang ingin dicapai, bermuatan lokal, nasional dan global. Melalui pengembangan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa yang pandai beradaptasi terhadap perkembangan teknologi abad 21. Namun, tetap menganut sistem ideologi negara yang pancasilais sebagai akar budaya bangsa yang perlu dijaga dan dilestarikan oleh pemilik bangsa ini.

Beradaptasi dengan perkembangan dunia dengan tidak melupakan budaya bangsa sendiri yang berbhinneka tinggal Ika. Di sisi lain, sekolah wajib menjauhkan diri dari semua bentuk tindakan kekerasan atau perundungan terhadap siswa, baik oleh guru dan pegawai maupun di kalangan sesama siswa itu sendiri di lingkungan sekolah.

Jadikan sekolah sebagai tempat yang aman, nyaman, kondusif, dan menyenangkan bagi komunitas sekolah. Sifat tindakan kekerasan itu berupa fisik dan non fisik dilarang dilakukan dan dipraktekkan di lingkungan sekolah. Kekerasan  fisik baik memukul dengan  fisik maupun alat bantu seperti kayu, mistar, melempar kapur ke arah siswa dan lain sebagainya, tidak hanya dilarang pada lingkungan sekolah, tetapi juga di rumah oleh orangtua siswa.

Kakaupun ada siswa yang terlambat masuk sekolah pada pagi hari, guru wajib mengarahkan dan memberikan peringatan secara lisan maupun tertulis. Bangun kerjasama dengan guru piket setiap hari untuk memberikan rekomindasi masuk kelas ketika ada alasan yang masuk akal secara pedagogik. Bangun komunikasi dengan menayakan alasan siswa terlambat. Juga, dilarang memberi skorsing kepada siswa apabila terlambat masuk kelas. Jangan dibentak, dimarah-marah tanpa ada solusi yang positip bagi siswa. Kalau terlambat berulang ulang kali, boleh memberikan tindakan yang edukatif yang mengarahkan dan tahu atas kesalahannya. Bekerjasama dengan guru bimbingan konseling di sekolah untuk menggali dan menecahkan masalah psikologis siswa.

Sebab setiap siswa berbeda-beda latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya di rumah. Catatan penting ini membuat siswa sebagai individu perlu ditolong oleh orang dewasa, dalam hal ini adalah seorang guru. Selain itu, ada siswa siswa tertentu pada mata pelajaran tertentu yang bolos pada pelajaran berlangsung di kelas. Butuh pendekatan psikologis dari hati ke hati untuk mencari apa dan bagaimana siswa tersebut sering bolos? Lalu, setiap selesai KBM di kelas harus membuat evaluasi dan refleksi atas hasil pembelajaran hari itu.

Biasakan menilai diri guru dari siswa melalui votasi di kelas tanpa menulis identitas siswa agar tahu kelebihan dan kekurangan diri kita sebagai orang dewasa yang selalu memiliki kecendrungan atas tindakan dan perbuatan kita. Sehingga siswa tertentu tidak bosan, takut dan fobia sekolah. Bangun keterbukaan dalam komunikasi secara adaptif dengan lingkungan belajar di kelas. Ramah tama dan selalu terbuka dan  bijaksana dalam bersikap  terhadap siswa.

Berkarakterkah Saya sebagai Guru?

Sangatlah penting menanamkan karakter dalam semua proses pembelajaran di kelas. Pendidikan karakter telah menjadi gaung dan menggema yang menggetarkan pendidikan kita di seluruh negeri tercinta ini. Selama ini kita lebih banyak dininabobokan dan hanya berkonsentrasi pada merah “angka” sehingga generasi yang dihasilkan adalah generasi yang kurang peka terhadap permasalahan-permasalahan sosial di sekitarnya. Generasi “ karbitan” itulah istilah ekstrem yang bisa diberikan.

Kita tahu; Guru, sebagai ujung tombak pendidikan, memiliki peranan yang sangat sentral dalam mewujudkan siswa yang berkarakter. Selain itu; guru dituntut untuk menjadi pengajar untuk menyampaikan materi pelajaran juga sekaligus menjadi seorang guru yang patut digugu dan ditiru yang sebenarnya. Kata-kata dan ucapan guru mudah ditiru dibanding dengan pelajaran yang diajarkan guru. Tindakan dan perbuatan guru selalu mudah diingat dalam sanubari setiap hari dibandingkan dengan materi ajar.

Guru harus menanamkan moral, nilai-nilai, etika, budi pekerti yang luhur dan mulia, tanggungjawab, kemandirian, gotong royong, integritas, dan lain sebagainya. Memberikan penghargaan kepada yang berprestasi dan hukuman kepada yang melanggar. Menumbuhsuburkan nilai-nilai yang baik dan mencegah ( discowaging) nilai- nilai yang buruk.

Selanjutnya menerapkan pendidikan berdasarkan karakter dengan menerapkan ke dalam setiap mata pelajaran dan juga dalam kehidupan nyata lalu apa realitas yang terjadi. Mungkin masih ada dalam ingatan kita disaat narkoba menyerbu banyak siswa di sekolah. Semua sekolah memasang kuda-kuda untuk mencegah masuknya racun tersebut dengan slogan-slogan yang tempel jelas di dinding tembok ruangan kelas. Seperti Bebas Asap rokok; dilarang merokok dan slogan-slogan lainnya, seperti Stop Kekerasan, Sayangi sesama, membuang sampah pada tong sampah. Dan slogan-slogan lainnya yang tidak kalah hebatnya. Tetapi sadarkah kita bahwa masih banyak GURU yang senang berteman dengan ROKOK. Baik dengan cara bersembunyi atau terang-terangan.

Bagaimana guru bisa melarang siswa-siswa yang merokok dan membebaskan sekolah dari asap rokok sedangkan guru-gurunya juga merokok. Contoh lainnya, banyak guru menjadi marah kalau siswanya terlambat datang sekolah, sedangkan apabila gurunya terlambat, betapa banyak alasan yang disampaikan pada siswanya.

Mungkin masih banyak kelemahan-kelemahan kita sebagai guru yang tidak mendukung tercapainya pendidikan karakter seperti membuang sampah sembarangan, mengajar asal-asalan, mengejek siswa, memberi labeling siswa, berlaku kasar terhadap siswa. Menyebut siswa sebagai pasien kalau tidak bisa menjawab pertanyaan guru di kelas, dan lain sebagainya.

Pendidikan karakter pada dasarnya dibentuk oleh beberapa pilar yang saling mengait, adapun pilar-pilar karakter ini adalah nilai-nilai luhur universal yang terdiri dari :

  1. Cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya,
  2. Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian
  3. Kejujuran,
  4. Hormat dan sopan santun,
  5. Kasih sayang, kepedulian, dan kerjsama,
  6. Percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah,
  7. Keadilan dan kepemimpinan,
  8. Baik dan rendah hati,
  9. Toleransi, cinta damai dan persatuan,
  10. Gotong royong dan integritas.

Pendidikan karakter adalah pendidikan yang ditujukan untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good, lowing the good, and acting the good, yaitu pendidikan melibatkan aspek kognitif, emosi dan fisik sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi habit of the mind, heart and hands.

Ayo kita bangun diri sebelum membangun orang lain. Disadur dari berbagai sumber tulisan yang pernah dimuat pada Majalah Mingguan Dian, Minggu, 10 Pebruari 2008. Disadur dari pengalaman mengikuti Asesmen Nasional Berbasis Komputer( ANBK) untuk guru dan siswa dari program pendidikan  Nasional yang sedang mengubah mainsed pendidikan abad 21 berb asis PISA.

Untuk pertama kali Indonesia melaksanakan ANBK pengganti UN dan USBN yang bertahun-tahun dilaksanakan dengan hanya mengukur kemampuan akademik, dan konitif siswa kita..

*Kedua penulis adalah guru dan pemerhati masalah pendidikan di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.