Lintas Batas

Oleh: Bernadinus Steni - Anggota SKK Jakarta

0 125
Bernadinus Steni lagi
Penulis adalah Kandidat Doktor dalam bidang managemen lingkungan IPB dan Penggiat Standar Berkelanjutan| foto istimewa

Siapa yang berani bilang foto Suster Maria dan Mama Siti Maryam berikut ini hanya sebuah foto biasa?. Apalagi hari-hari belakangan ini, saat orang lebih gemar merayakan sekat daripada kebersamaan. Pictures speak louder than words! Foto ini demikian juga, menghadirkan lebih dari 1000 makna. Salah satunya adalah, bagi mereka yang menghayati kemajemukan sebagai rahmat, pasti terinspirasi oleh senyum sumringah

dan pelukan mesra dua anak manusia ini. Kedekatan mereka tidak menghadirkan dinding pemisah, kecuali semata-mata melebur melampaui batas.

Kami bertemu mereka sore itu dalam suatu persekutuan yang disebut SKK. Saya pernah menulis perkumpulan kecil ini di tulisan terpisah. Baiklah saya ringkaskan lagi disini.

SKK adalah Serikat Konfigurasi Kasih. Sering pula kami plesetkan Serika Kocar Kacir. Suka Ketawa Ketiwi, dan seterusnya. Banyak nama, banyak pula lucunya. Karena memang itulah tujuan sekutu ini dibentuk. Sebagai wadah lucu-lucuan yang bikin orang tersenyum lebar, meski kita sadari pergulatan hari-hari manusia tidaklah mudah. Namun dalam kebersamaan, pekatnya sakit dan derita segera sirna seketika.

SKK diinisiasi oleh Bpk Anton Porat pada 2007 di Kupang. Tidak ada tujuan rupa macam yang ribet seperti banyak lembaga yang lengkap dengan asas, visi dan misi. Karena itu, jangan tanya struktur baku organisasi ini. Ia ada dan berdiri begitu saja dengan karya. Sejak awal kehadirannya, SKK didedikasikan untuk membantu mengembangkan rasa persaudaraan di antara semua anggotanya untuk belajar mencintai sesama, alam dan Allah. Spiritualitas lintas sekat itulah yang diperjuangkan, sehingga bantuan yang diberikan kepada orang yang menderita dinyatakan tanpa memandang batas-batas primordial. Dalam 14 tahun yang senyap dan tanpa propaganda, SKK telah membantu ribuan orang yang mengalami masalah kesehatan, pendidikan, hingga persoalan kemiskinan.

Mereka yang mengidentifikasi diri sebagai SKK tidak hanya orang Indonesia tetapi menyebar di berbagai negara. Tidak ada kekhususan pada orang tertentu karena menilik gelar dan latar belakangnya. Walaupun anggota SKK ada yang Profesor, Doktor, dokter ahli, atau pimpinan di sebuah lembaga terkemuka, mereka semua sama. Seperti kata Thomas Aquinas “…Quod in hominibus non contingit, qui natura sunt pares.….” Manusia, tidak punya alasan untuk berbeda karena pada hakikatnya diciptakan setara adanya.

Demikianlah. Potret Suster Maria dan Mama Siti, itulah SKK sehari-hari. Banyak orang lainnya dari berbagai suku, ras, dan agama berdialog menembus batas. Dari pertemuan singkat, lalu ditemani secangkir kopi, kemudian jadi sahabat, dan akhirnya menjadi keluarga yang saling membantu manakala diperlukan.

Suster Maria dan Mama Siti berasal dari Flores Timur. Lahir di satu bumi yang sama, keduanya dibesarkan dalam tradisi agama yang berbeda. Nasib membawa mereka ke sisi yang berlainan. Satunya jadi suster katolik. Satu lagi seorang muslim tulen. Katolik dan Islam adalah dua tradisi tua yang sama kuatnya di Pulau Bunga. Dari ujung timur hingga ujung barat, dua agama ini menyatu dalam berbagai keluarga. Lazim ditemukan pada satu keluarga, kakaknya Islam, adiknya Katolik. Demikian sebaliknya. Sering terjadi, saudara yang satu adalah Pastor, sementara yang lainnya Uztad. Atau ibunya seorang muslim 100 %, sementara anaknya seorang imam Katolik. Karenanya, sudah umum terjadi, tradisi-tradisi tua yang diwariskan dalam adat mendudukan dua latar belakang berbeda ini dalam satu meja dengan tata cara tertentu. Misalnya, di Manggarai, pemotongan hewan untuk acara adat biasanya dilakukan saudara muslim. Dalam tradisi Muslim, prosesi semacam itu dilengkapi dengan do’a. Sehingga, ada keyakinan bersama di antara pada saudara ini, jika tangan saudara-saudara muslim yang menyembelih hewan kurban itu maka dagingnya dibebaskan dari sakit dan penyakit. Yang lebih penting, proses itu adalah wujud syukur pada Sang Pencipta.

Cerita semacam ini tentu bisa ditemukan pula di berbagai tempat. Toleransi bukanlah baru di nusantara. Saya pernah temukan pula kemajemukan yang indah di Maluku dan Fakfak. Namun yang berbeda di SKK adalah mereka bukan sedarah dalam pengertian biologis. Tetapi saudara yang dipersatukan oleh kebersamaan lintas batas. Mereka mengalami perjumpaan karena sama-sama meyakini beranjak dari rahim Pencipta yang sama. Bukankah itu sama kuatnya dengan saudara biologis?

Dalam persaudaraan itu pula, pergaulan lintas batas berlangsung. Mereka berbagi dalam narasi solidaritas untuk memaknai ulang pengalaman sakit secara fisik sebagai panggilan sukacita untuk bertemu. Dus, jadilah pertemuan itu sebagai sharing pengalaman. Bahwa semua orang disitu pernah mengalami derita. Namun mereka tidak berhenti pada ratapan tapi melangkahi dinding kemalangan untuk menuju syukur dan pertobatan.

Tidak banyak narasi alternatif disodorkan untuk menepikan rasa sakit, lalu diganti kegembiraan. Hari-hari ini ketika dunia diancam teror pandemi Covid-19, satu-satunya konsep utama tentang sakit adalah tidak lebih dari belenggu penderitaan. Narasi ini demikian absolut sehingga setiap orang sulit untuk keluar dari belenggu derita. Tidak sedikit orang yang menghabiskan 24 jam tiap harinya dengan ketakutan, ditindas rasa ngeri di balik tembok-tembok rumah yang sepi. Waspada kalau-kalau derita itu mampir.

Pada diri suster dan ibu Siti, mereka tidak meratapi sakit. Karena seperti kata orang bijak yang pernah saya baca (lupa judul bukunya):

“….haruslah engkau bersyukur, hidup di tanah yang gemuk dengan susu dan madu. Tidak hanya flora dan fauna, manusia pun berupa macam. Keberagaman itu terekspresi pada hati riang yang meletup seperti hentakan kaki menari dan mulut yang bersorak ria. Ibarat riuh rendah lebah di tengah warna warni pelangi bunga. Itulah keberagaman manusia. Daripadanya, relasi jadi hakikat, batas lenyap, dan setiap orang bisa mengembara dalam petualangan kata dan canda yang lintas batas….”

Kemajemukan selalu dihambatas oleh sekat. Manusia gemar mengkonstruksikan batas hanya untuk berdalih kami berbeda dari mereka atau saya memasang pagar dari dia. Secara alamiah, batas sosial pada hakikatnya tidak ada karena sejak awal mula jagat raya tidaklah bisa disekat dan dikotak-kotakkan. Semua hal terhubung. Semua hal satu kesatuan. Semua hal mempunyai relasi. Batas muncul sebagai bikinan manusia untuk menampung kemampuannya yang kerdil yang tidak mampu melampaui batas-batas horizon.

Alam semesta sebaliknya terkait satu sama lain. Relasi antara semua hal adalah keniscyaan. Kita hanya perlu terbuka untuk menerima fakta bahwa keterhubungan itu jelas dan gamblang adanya. Mari kita rayakan !

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.