Mengenang Cornelis Dola:Sang Penjaga Hutan

Oleh: Apoloninus Anas (Direktur LBKP U-Geninus Kefamenanu)

0 152
Bapak Cornelius  Dola
Bapak Cornelis Dola | foto istimewa

Cornelis Dola adalah putra terbaik yang pernah dimiliki kampung Sambi Rampas. Ia seorang mantan PNS. Sering dipanggil menteri Cornelis.  Karena ia merupakan figur pegawai kehutanan yang bertugas menjaga dan mengawal hutan belantara di wilayah Kecamatan Sambi Rampas dan sekitarnya selama puluhan tahun silam.

Di bawah pengawasannya hutan belantara di kawasan Sambi Rampas menjadi hutan lindung yang paling aman dari cengkraman manusia. Di tangan Cornelis, semuanya diatur dan ditata berdasarkan hukum adat dan negara. Sebab ia seorang mediator kehutanan yang ulung.

Dialah figur sejati yang menjadi penengah antara pemerintah dan masyarakat adat wilayah Congkar khususnya Teno Menge. Sehingga masyarakat yang berniat membabat hutan secara sembarang akan dibentaknya sampai  kuping panas. Pernah sekali masyarakat babat hutan di luar “pal” dia datang dan mencegat dengan sangat tegas.

Cornelis Dola di masa mudanya adalah seorang pengembara. Ia seorang yang dekat dengan alam. Ia beserta keluarganya saat masih aktif  PNS hidupnya “nomaden” mengikuti kerja kebun padi. Dimana ia berkebun, di situ mereka tinggal sampai berlama-lama.

Walaupun rumah tinggal sebenarnya terletak di Nanga Baras. Namun saat itu Nanga Baras masih sepi.  Tidak seramai sekarang. Akses jalan dari Reo ke Pota belum ada. Persawahan Nanga Baras belum dikerjakan kembali. Bendungannya rusak disapu banjir. Keluarga lebih suka tinggal dan hidup dekat dengan keluarga dan kerabat di kampung Sambi Rampas. Jarak dua puluh kilo dari Nanga Baras.

Tercatat ia dan keluarganya pernah tinggal di kebun Lengko Tanah persis di bagian barat dari SDI Lengko Tanah sekarang.  Pondok mereka dibangun di situ. Demikianpun Punggul dan Lengko Ruteng.  Lengko Ruteng adalah tempat tinggal yang agak lama bagi Cornelis dan keluarga. Karena tempatnya yang  eksotis, sejuk, nyaman, rata dan damai.

Di sana pula ia membereskan pendidikan anak-anaknya termasuk anak perempuannya yang saat itu masuk SMAK Setia Bakti Ruteng. Medy,Min dan Li. Ketiga putrinya itu sangat berdampak bagi anak-anak di Sambi Rampas karena mereka sangat bersemangat mengikuti pendidikan.

Cornelis Dola hidup dan menetap persis di pinggir kali Wae Bakok. Saat itu, hanya sesekali ke Nanga Baras atau Pota untuk kegiatan di kantor camat atau pergi terima gaji di Reo. Karena Cornelis Dola adalah pria yang suka dengan alam. Tugasnya lebih banyak berpatroli dari satu wilayah hutan ke wilayah hutan lainnya.

Rumah di Lengko Ruteng saat itu berlantai dua. Hanya dikelilingi oleh pohon-pohon tua seperti pohon soga, langke, mes(jambu hutan) dan pohon-pohon hutan lainnya. Bangunan rumah pondok semuanya berbahan kayu. Hanya atapnya saja dari alang-alang.

Di lantai bawah dari rumah pondok itu, hewan piaraan seperti ayam dan bebek berkeliaran. Di sisi kiri kanan rumah, peralatan tangkap belut dan ikan bergelantungan. Ada wenta(traditional hand net),kaar, dan alat pancing belut. Sebab hobi utama selain berburu adalah menangkap ikan dan belut secara tradisional.

Walaupun rumah itu sederhana tetapi banyak ceritra terjadi. Mulai dari anak-anak sampai keluarga terdekatnya. Utamanya tentang kehidupan. Maklum saat itu yang disebut pegawai hanya Cornelis Dola sehingga banyak orang ingin mendapat petuah, nasihat dan ajaran darinya.

Cornelis dan Kudanya

Dalam mengarungi hutan belantara dan kali Wae Bakok dari Nanga Baras sampai Lengko Ruteng yang sangat jauh, saat itu Cornelis hanya mengandalkan kuda sebagai tunggangannya. Kuda itu sangat berjasa. Namanya  “Blibi”.

Hanya beliau yang tahu arti nama kuda itu. Baginya blibi adalah sahabatnya yang setia. Saya pernah lihat bagaimana setianya Blibi ditunggangi Conelis di tengah gesekan “watu balo” sepanjang kali Wae Bakok. “Tok tak tok tak”. Begitulah bunyi gesekan kuku kuda blipi dan batu kali Wae Bakok persis di pinggir kali(par).

Kuda blibi sangat terkenal satu kecamatan. Aksesorisnya sangat banyak dan unik. Mulai dari karung goni berwarna coklat sebagai alas pundak, aneka pelana dan tapal. Semuanya sangat tajir. Kalau dibilang aksesorisnya setara dengan aksesoris mobil zaman now. Ketika kuda itu lewat di jalan, seseorang harus bergeser(ledang) ke pinggir kiri atau kanan jalan sejauh 3 meter. Kalau tidak, blipi akan “tendang” dan kejar siapa saja.

Nyinyir kuda blipi sangat unik. Melengking dan penuh ksatria. Orang orang sekita sudah tahu kalau Cornelis Dola sedang lewat. Kalau kuda blipi sedang berjalan, kuda-kuda lain jangan menyapa. Dia akan kejar sampai dapat.

Hanya satu orang yang bisa kendalikan kuda Blipi yaitu Yan Barus. Hanya dia yang mampu mengendalikannya. Dialah orang Sambi Rampas yang sangat lihai mengendalikan kuda yang tinggi dan berwarna coklat itu. Sebab gertakan Yan Barus sangat jitu.dan sepadan yang membuat blipi pun bertitah padanya.

Ada juga seorang ibu bernama Ester Liping. Tetapi dia hanya sampai pada memberi makan. Ibu Ester tidak terlalu bisa mengandalakan tali di tangan. Sebab jika kuda blipi menunjukan kesatrianya dia akan menyeret orang yang memegangnya sampai lima meter termasuk yang pernah dialami Ibu Ester Liping.

Cornelis dan Kartu

Boleh dibilang kartu itu lekat dalam diri Cornelis. Baginya, kartu adalah “hiburan otak”. Bukan media berjudi.  Sebab sebenarnya brain exercise atau latihan bernalar muncul saat seorang bermain kartu.  Bermain kartu baginya bicara tentang peluang, rezeki, nasib, siasat dan celah.

Saya berpikir Cornelis sebagai seorang jenius karena bisa mengkamuflase konsep kehidupan melalui media kartu.Maka demi mewujudkan hobinya itu terus berkembang tidak tanggung-tanggung orang-orang di sekitar diberinya uang sebagai pelecut semangat. Dari bermain kartu ia mengerti cara berpikir orang sekitar makanya dia lebih suka mendidik cara berpikir orang lain dari meja kartu. Dengan kartu pula ingatannya kuat dan diperbaharui.

Siapa saja yang pernah  menginap di rumahnya pasti pernah bermain kartu dengannya.  Di atas meja hanya onggokan kartu. Kartu adalah semangat hidup. Uniknya dia sangat kuat memegang argumentasi itu.

Di tengah kekontroversialan sebagai seorang anak manusia yang tuntas melakukan ziarah kehidupan,  saya hanya merenung pada satu titik bahwa bingkisan kasihlah yang jadi garansi asli bagi Cornelis Dola masuk ke kehidupan abadi. Cornelis telah mewariskan salah satu kasih yang diwariskan Allah kepada manusia. Yakni memberi hidup dan kehidupan bagi orang lain.

Dia telah memberi dirinya selama menjalani kehidupan di dunia ini bukan hanya bagi keluarganya tetapi juga bagi keluarga sekitar dan masyarakat banyak. Pancaran kehidupannya telah memberi ruang bagi manusia sekitar untuk menjadi manusia juga.

Dengan kasih itu pula ia telah meremukan noktah-noktah kemanusiawiannya yang lekat pada alam bawa sadar manusia yang ditinggalkannya. Kasih adalah benteng pertahanan terakhirnya. Karena hidupnya penuh dengan kasih maka kehidupan abadi adalah jaminan keselamatannya. Selamat jalan Opa Cornelis Dola.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.