Pemanfaatan Instrumen Sosiometri Untuk Mengungkapkan Masalah Siswa

Oleh: Maria Magdalena A. Jelu, S.Pd

0 64
Penulis adalah Guru BK SMP Negeri 1 Komodo, Labuan Bajo | foto istimewa

Manusia sejak dunia dijadikan secara hakiki merupakan makhluk sosial yang membutuhkan pergaulan dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagai makhluk sosial, individu di dalam menjalin hubungan dengan individu lain perlu mempelajari nilai-nilai, aturan-aturan dan norma-norma sosial dimana individu itu berada( Gerungan, 2004). Manusia menjalin hubungan dengan individu yang lain sebagai bentuk sosialisasi di dalam kehidupan agar dapat terjadi kehidupan yang sejahtera. Di dalam proses kehidupannya, terdapat perbedaan baik antar individu  maupun antar kelompok sosial. Perbedaan tersebut menuntut individu .menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Individu sebagai makhluk sosial dituntut untuk memiliki kemampuan penyesuaian sosial, atau adaptasi sosial di dalam lingkungannya.

Penyesuaian pada masa remaja memang sering kali menyebabkan hambatan,  salah satunya di dalam dunia pendidikan; khususnya di sekolah. Kemampuan di dalam melakukan penyesuaian sosial pada remaja akan menciptakan hubungan yang harmonis. Apabila remaja tidak mampu akan mengakibatkan ketidakpuasan pada diri sendiri karena merasa dikucilkan dan mempunyai sikap-sikap menolak diri. Seperti pada Peer Cluster Theory yang menyatakan pentingnya pengaruh lingkungan dalam bentuk perilaku yang beresiko pada remaja. Peer Cluster Theory merupakan sekelompok kecil teman sebaya yang memiliki hubungan pertemanan yang erat satu dengan yang lain dan bahwa dalam Cluster yang erat informasi, ide saling dipertukarkan, sikap dan kepercayaan dibentuk dan diubah secara dinamis ( Fitriyada, 2008).

Masa remaja adalah masa kritis identitas. Pengaruh sekolah sekarang ini lebih kuat dibandingkan pada generasi sebelumnya karena lebih banyak individu yang menghabiskan waktunya di sekolah ( Endah, 2013). Remaja sedang mencari-cari figur panutan, namun, figur itu tidak ada di dekatnya. Secara umum dan dalam kondisi normal sekalipun, masa ini merupakan periode yang sulit untuk ditempuh, baik secara individual maupun kelompok, sehinnga remaja sering dikatakan sebagai kelompok umur bermasalah ( the trouble teens). Hal ini merupakan salah satu sebab mengapa masa remaja dianggap lebih rawan daripada tahap-tahap perkembangan manusia yang lain ( Eko, 2006).

Siswa SMP atau sederajat dalam tahap perkembangannya digolongkan sebagai masa remaja. Hurlock ( 993: 206), awal masa remaja berlangsung kira-kira dari 13-17 tahun. Masa remaja ditinjau dari rentang kehidupan manusia  merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa, dimana tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan pola perilaku anak.

Sebagai pelaksana layanan bimbingan dan konseling di lembaga pendidikan ( sekolah), maka penulis sebagai seorang  guru pembimbing wajib memenuhi dan memiliki kualitas seperti yang  disyaratkan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada Bab IV pasal 8 yang berbunyi sebagai berikut “ Guru wajib memikiki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidikan, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional “. Menyadari akan amanat  yang tertuang di dalam Undang- Undang tersebut, maka guru pembimbing sebagai aset strategis ditekankan agar menjadi lebih dinamis, produktif dan profesional, mampu berpikir logis, kreatif, berkemampuan tinggi dan penuh pengabdian. Sehingga diharapkan guru pembimbing dapat menjalankan tugasnya secara profesional dibidang ke-BK-an dengan semestinya.

Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru pembimbing adalah memahami klien ( siswa) secara mendalam, termasuk di dalamnya adalah memahami kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi klien (siswa). Seorang guru pembimbing selanjutnya dapat menentukan program layanan bimbingan dan konseling, baik yang bersifat preventif, pengembangan maupun kuratif, sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat berjalan lebih efektif.

Guna untuk mengungkapkan data yang amat penting dalam menentukan arah dan isi pelayanan konseling cara-cara yang cukup rumit terkadang perlu ditempuh oleh guru pembimbing. Salah satu cara untuk memahami berbagai masalah yang dihadapi oleh klien (siswa) adalah dengan melaksanakan kegiatan aplikasi instrumentasi yang menjadi kegiatan pendukung bimbingan dan konseling sebagaimana yang tercantum dalam BK pola 17 plus. Makna aplikasi instrumentasi dalam bimbingan konseling diartikan sebagai upaya pengungkapan masalah yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling (BK) melalui pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur atau instrumen tertentu. Dengan kata lain, untuk memperoleh pemahaman tentang diri klien( siswa) secara lebih tepat, kondisi dalam diri klien( siswa) perlu diungkap melalui aplikasi instrumentasi dengan menggunakan instrumen tes maupun instrumen non tes.

Selanjutnya, hasil aplikasi instrumentasi  dianalisis dan ditafsirkan serta disikapi dan digunakan untuk memberikan  perlakuan secara tepat kepada klien dalam bentuk  layanan  bimbingan dan konseling. Salah satu instrumen bimbingan konseling yang digunakan oleh guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan konseling di lembaga pendidikan (sekolah) adalah SOSIOMETRI, yang merupakan suatu metode untuk memperoleh data tentang jaringan hubungan sosial dalam suatu kelompok yang berukuran kecil (10-50) orang siswa berdasarkan prefensi  antara anggota kelompok satu sama lainnya.

Maka dari itu, penulis sebagai seorang Guru  Bimbingan dan Konseling di SMP Negeri 1 Komodo; sangat perlu melakukan penelitian tindakan kelas yang diberi judul “Upaya Mengungkapkan Masalah Siswa dengan Menggunakan Instrumen SOSIOMETRI  di SMP Negeri 1 Komodo tahun pelajaran 2021/2022”.

Berdasarkan latar belakang di atas penulis dapat mengidentifikasi masalah yang sering terjadi di sekolah adalah sering berkelahi, dan membuat keributan di dalam kelas terutama saat guru tidak masuk kelas, ada siswa yang tidak ingin terlibat dalam kerja kelompok dalam proses belajar mengajar di kelas, ada siswa yang tidak bertanggungjawab terhadap tugas piket kelas.

Penulis perlu menggali masalah yang bertujuan untuk mengetahui masalah yang dihadapi siswa di kelas, untuk membantu siswa mencari solusi untuk permasalahan hubungan sosial yang dihadapi di dalam kelas khususnya dan di lingkungan masyarakat umumnya, dan untuk meningkatkan kompetensi guru pembimbing dalam mengungkapkan dan menecahkan masalah  klien (siswa).

Dari hal ini penulis memperoleh manfaat untuk siswa, untuk mampu menyesuaikan diri (bisa berbaur) dengan orang lain dalam lingkungan kelas, guna memperbaiki perilaku yang kurang menyenangkan dalam lingkungan kelas khususnya dan lingkungan masyarakat umumnya. Dan mampu menumbuhkan rasa tanggungjawab dalam diri sendiri, dan atau meningkatkan rasa percaya diri siswa. Bagi guru pembimbing untuk meningkatkan kompetensi guru pembimbing yang profesional dalam mengungkapkan dan memecahkan masalah klien (siswa). Juga penulis semakin terampil dalam menggunakan instrumen-instrumen tes dan non tes untuk membantu memecahkan masalah siswa, menggunakan alat ungkap masalah (AUM).

Untuk memperkuat landasan berpikir penulis, dalam mengungkapkan masalah siswa, masa remaja dan perilakunya dalam kelompok, tidak dapat dilepaskan dari tugas perkembangan yang harus dilaksanakan oleh remaja; menurut Havighurst (dalam Hurlock 1980 : 10) masa remaja ini ommerupakan masa dimana remaja mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita. Teman sebaya adalah sekelompok anak yang memiliki umur yang hampir sama dan memiliki berbagai kesamaan, seperti hoby, minat, dan hal-hal menarik lainnya.

Menurut Suntrock (2007: 55) kawan-kawan sebaya( peer) adalah anak-anak atau remaja yang memiki usia tingkat kematangan yang kurang lebih sama. Horrock dan Benimoff (dalam Hurlock, 1980 : 214) kelompok sebaya terdiri dari anggota-anggota tertentu dari teman-temannya yang dapat menerimanya dan kepadanya dia sendiri bergantung. Sementara dalam Santosa (2006: 79) menjelaskan bahwa kelompok  sebaya yang sukses ketika anggotanya dapat berinteraksi.

Pada masa remaja anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah. Didukung oleh pandangan Havighurst (dalam Santosa, 2006 : 77) dalam kehidupan sehari- hari individu hidup dalam tiga Lingkungan, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Anak-anak banyak melakukan aktivitas sosial, dan belajar di lingkungan sekolah bersama dengan teman sebayanya. Kelompok teman sebaya akan terbentuk dengan sendirinya tanpa ikut campur tangan dan aturan dari orang dewasa. Menurut Santrock ( 2007: 55) pertemanan berdasarkan tingkat usia dengan sendirinya akan terjadi meskipun sekolah tidak menerapkan sistem usia.

Menurut Havinghurts ( dalam Santosa, 2006 : 77), anak tumbuh dan berinteraksi dalam dunia sosial yaitu dunia orang dewasa dan dunia teman sebaya (peer group). Sentosa (2006 : 88), menyatakan, latar belakang terbentuknya  kelompok sebaya yaitu adanya perkembangan proses sosialisasi, kebutuhan untuk menerima penghargaan, perlu perhatian dari orang lain, ingin menemukan dunianya.

Berdasarkan uraian di atas, Latar belakang terbentuknya kelompok teman sebaya pada anak-anak adalah untuk menemukan jati dirinya selama proses perkembangan, harapan untuk diterima dan diakui di dalam kelompok, dan menemukan teman-teman yang memiliki persamaan pembicaraan di segala bidang seperti hoby,dan hal-hal yang mereka suka lainnya. Memilih tokoh idola, seperti artis, penyanyi, model, olahragawan, olahragawati, dan lain sebagainya.

Nilai baru mengenai teman-temannya, remaja juga memiliki nilai dalam menerima atau tidak menerima anggota-anggota kelompok sebaya. Nilai ini terutama didasarkan pada nilai kelompok sebaya yang digunakan untuk menilai anggota-anggota kelompok. Remaja segera mengerti bahwa ia dinilai dengan standar yang sama dengan yang digunakan untuk menilai orang lain.

Tidak ada satu sifat atau pola perilaku yang khas yang akan menjamin penerimaan sosial selama masa remaja. Penerimaan tergantung pada segumpulan sifat  dan pola perilaku yaitu simdroma penerimaan yang disenangi remaja dan dapat menambah gengsi.  Demikian pula, tidak ada satu sifat atau pola perilaku yang menjauhkan remaja dari teman-teman sebayanya. Namun ada kelompokan sifat sindroma alienasi yang membuat orang lain tidak menyukai dan menolaknya.

SOSIOMETRI berasal dari bahasa latin “ Socius”, yang berarti sosial dan “ Metrum”, yang berarti mengukur. Dengan mengartikan kedua kata tersebut tersirat bahwa, sosiometri merupakan salah satu cara untuk mengukur hubungan sosial antar individu. Awal mulanya, SOSIOMETRI dikembangkan oleh Mareno dan Jenning. Metode ini didasarkan atas pemikiran bahwa kelompok mempunyai struktur yang terdiri dari hubungan-hubungan interpersonal yang kompleks. Posisi setiap individu dan hubungan-hubungan yang terjadi dalam struktur kelompoknya dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil pengolahan SOSIOMETRI akan diperoleh gambaran jumlah skor yang diperoleh oleh setiap orang, pola hubungan, intensitas hubungan, dan posisi peserta didik   untukdalam kelompoknya.

SOSIOMETRI merupakan alat yang tepat untuk untuk mengumpulkan data mengenai hubungan sosial dan tingkahlaku sosial murid. SOSIOMETRI adalah suatu metode untuk mengumpulkan data tentang pola dan struktur antara antara hubungan individu-individu dalam suatu kelompok( Wayan Nurkancaba,  1994 : 209). SOSIOMETRI merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengetahui hubungan yang ada diantara anggota dalam suatu kelompok, guru dapat menggunakan teknik ini untuk mengetahui struktur sosial kelas, pemilihan bintang kelas, teman belajar kelompok dan sebagainya( A. Muri Yusuf, 2011 : 119).

Menurut WS. Winkel ( 1977: 293) SOSIOMETRI merupakan suatu metode untuk memperoleh data tentang hubungan hubungan sosial dalam suatu kelompok, yang berukuran kecil sampai sedang ( 10-50) orang, berdasarkan preferensi pribadi antara anggota kelompok satu  sama lain, preferensi pribadi dinyatakan dalam melakukan kegiatan tertentu atau dinyatakan dalam ungkapan perasaan terhadap anggota-anggota kelompok yang lepas dari kegiatan tertentu. Deasy Riyanti ( 2007: 10) mengartikan SOSIOMETRI sebagai suatu metode untuk memperoleh data tentang pola dan struktur hubungan sosial antara individu-ondovidu dalam suatu kelompok berdasarkan preferensi pribadi antara anggota-anggota kelompok. Preferensi pribadi dinyatakan dalam kesukaan untuk berada bersama dengan beberapa anggota kelompok dalam melakukan kegiatan tertentu.

Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa SOSIOMETRI merupakan salah satu metode psikologi sosial untuk mengetahui tingkat hubungan sosial antar individu di dalam sebuah kelompok yang  mengacu pada kriteria tertentu.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.