Puisi Duka Bupati Agas

0 175
Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas | foto istimewa

Manggarai Timur, Lensanews.co – Kematian adalah sebuah kepastian. Tentang kapan dan dimana itu terjadi, adalah sebuah misteri Ilahi. Garis antara pertemuan dan perpisahan begitu tipis sekali. Waktu adalah abstrak dan manusia bagian terkecil di dalamnya.

Puisi duka Bupati Agas yang beredar luas di berbagai group whatsapp keluarga pada rabu (11/8/2021) menggambarkan kenyataan itu. Bahwa kehidupan itu, secara tiba tiba direnggut sang waktu. Waktu merampas segalanya, yang tersisa hanya kenangan. Begitu El Rumi melukiskannya.

Berita meninggalnya Kabag Humas di Kabupaten Manggarai Timur bernama Maria Trivonia Surya Sino yang meninggal dunia pada Rabu,( 11/8/2021) di RSUD Ruteng, meninggalkan duka yang begitu dalam untuk keluarga, sahabat dan masyarakat umum yang mengenalnya.

Demikian juga, Bupati Agas. Dia merasakan duka yang teramat dalam atas kepergian bawahannya itu. Perasaan duka yang kian dalam, lantas diekspresikannya melalui sebuah puisi tanpa judul. Sebuah puisi yang melukiskan kehidupan almarhuma dalam ruang waktu. Tentang kebersamaan yang dirampas dan seketika yang tersisa hanyalah diam.

Lantas, kita manusia tidak punya kuasa menahan, kita terpaku dalam diam. Seketika itu, kita terhempas lelah.

“Satu persatu yang terkasih direnggut waktu
dan kita hanya bisa diam
sambil merapal mantra
Penghapus dosa”, irik bait pertama dalam puisi itu yang menggetarkan.

Pada bait kedua, Bupati Agas, melukiskan situasi kehidupan dalam ruang bernama waktu.

Batasnya begitu tipis, kemarin tersenyum, tertawa dan kini berubah muram, terkulai lemas. Deraian air mata, bercucuran, keluar dari sudut jendela mata. Yang tersisa hanya ratapan duka

Waktu
Lagi lagi engkau senantiasa seperti itu
Kemarin berhias senyum,
Kemarin berhias tawa
Hari ini sunyi, menets dari sudut jendela mata
Memporakporandakan hati kami”

Pada bait lain, Bupati Agas, menggambarkan situasi batinnya, situasi batin semua orang yang mengenal almarhuma Trivonia. keadaan sepi tanpa ada lagi senyum menawan terpancar dari wajahnya. Senyum mewakili keramahan yang menjadi karakter seorang pribadi. Dalam senyum ada kehangatan. Senyum juga bisa menjadi simbol kedekatan dalam berelasi.

Almarhuma Trivonia sudah menunjukan keramahan dan kedekatannya itu kepada semua orang. Dengan senyumnya, Ia menebarkan kasih, menebarkan cinta yang menjadi keutamaan hidup semua insan manusia. Itulah cahaya, dan Trivonia adalah cahaya itu.

“Trivonia kami
Pergilah dengan tenang dan lihatlah kedalam
Tanpamu sepi
Karena kau adalah cahaya semesta alam kekasih
Hatimu terahmati dalam dia”

Ahkirnya, Kenangan akan Trivonia, terbingkai dalam relung terdalam. Spiritnya tetap hidup pada kekasih hati dan kepada setiap orang yang dicintai dan mencintainya.
Bupati Agas, sekali lagi, menjerit dalam kesedihan melepas kepergiannya, setelah sekian waktu bersama mengabdi pada negeri, tanah kelahiran yang dicintainya. Dia pergi meninggalkan kebaikan yang menjadi legasinya. Untuknya segala pujian dan terima kasih dihaturkan.

“Trivonia,
Kenangan akanmu menyesap dalam hati ini, hati para kekasihmu
Terima kasih untuk semua pengabdian dan cintamu
Bagi negeri ini, bagi tanah Manggarai Timur,
Selamat Jalan Perempuan hebat Manggarai Timur”

Berikut puisi duka Agas untuk Trivonia:

Satu persatu yang terkasih direnggut waktu dan
Kita hanya bisa diam sambil merapal mantra
Penghapus dosa
Waktu,

Lagi lagi engkau senantiasa seperti itu
Kemarin berhias senyum
Kemarin berhias tawa
Hari ini sunyi menetes dari sudut jendela mata
Memporak porandakan hati kami
Esok menjenguk jiwa, berucap doa

Kemudian semua berlalu dan Kembali lagi
Selalu seperti itu
Trivonia Kami
Pergilah dengan tenang dan lihatlah kedalm
Tanpamu sepi

Karena kau adalah cahaya semesta alam kekasih
Hatimu. Terahmati dalam diam
Saat ini tubuhmu terdiam, menepihkan senyum
Memantik duka hati tanah ini, duka hati para
Kekasih hatimu..
Trivonia

Kenangan akanmu menyesap dalam hati ini, hati para kekasih hatimu
Terima kasih untuk semua pengabdian dan cinta
Bagi negeri ini, bagi tanah Manggarai Timur
Selamat jalan perempuan hebat manggarai timur

Penulis; Rafael Rela

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.